Oleh Siti Mahmudah, S.Si - Mentari bersinar cerah menemani perjalananku kali ini. Tanpa rencana kupilih hari selasa ini untuk kerumah Bagus yang sudah beberapa hari ini absen dari sekolah. Kabar yang ku peroleh dari teman sekelasnya Bagus sakit.
“Alamatnya Talang Bandung ujung, Mbak,” ujar Mbak Maya ketika kutanyakan alamat lengkap orang tua Bagus.
“Mbak pakai rok, ya? Pakai celana panjang, kan? Roknya diangkat aja. Jalannya bakal seru, lebih seru lagi kalau ketemu hujan, ha ha,” Lanjutnya lagi.
“Ok, Siap.”
Segera kunaiki motor yang dikemudikan suamiku. Terus terang aku tak berani berangkat sendiri.
Dari Air Naningan jalan hitam aspal cukup bagus. Begitu masuk ke dalam mulai disuguhi dengan longsoran tebing yang berkali-kali tersiram hujan. Akses jalan mulai naik turun. Jalan becek penuh lumpur, sulit untuk dilalui. Tahan nafas, berdoa sepenuh hati saat melalui jalanan lumpur, licin dan berair bahkan terkadang aku harus turun dari motor karena terlalu takut jika nanti tergelincir. Jalanan inilah yang anak-anakku lalui untuk ke sekolah. Jika musim kemarau tanah kering dapat dilewati kendaraan dengan lancar tanpa hambatan. Tapi musim hujan seperti sekarang ini membuat anak-anak harus berhati-hati jika ingin selamat sampai ke sekolah dan kembali ke rumah.
Anak-anak yang hebat. Perjuangan yang luar biasa untuk dapat menempuh pendidikan.
“Nak, tahu rumah Bagus?” Tanyaku pada seorang anak yang kutemui ketika tiba di Dusun Talang Bandung.
“O iya, Bu. Aku tau,” jawabnya singkat.
Diambillah sepeda motor dengan roda besar itu. Badan kecil itu lincah mengimbangi motor yang dipegangnya.
“Ayo, Bu. Saya antar.”
Khas anak-anak pedesaan, mereka siap menolong siapa saja dan kapan saja. Itu yang selalu kukagumi dari mereka, anak-anak yang jauh dari fasilitas selengkap fasilitas di perkotaan, tetapi mereka memiliki kepedulian sosial yang patut diacungi dua jempol.
Rumah Bagus ternyata ada di ujung Dusun Talang Bandung. Rumah sederhana, keluarga yang ramah menyambut kedatanganku. Bagus benar-benar sakit. Saat penyakitnya kambuh jarinya tak dapat digerakkan untuk menulis, apalagi mengendarai motor untuk berangkat ke sekolah. Karena itulah ia ijin tidak masuk sekolah.
Perjalanan ini, keluarga-keluarga di ujung dusun ini memberi banyak pelajaran tentang pendidikan yang ada di sekitar sekolah kami. Satu lagi, di dusun ini pernah lahir seorang juara yang membawa nama sekolah kami harum di puncak nasional, Ujang Santani.



Tidak ada komentar
Posting Komentar